Episode 1: Delman dan Sawah Berlumpur

Matahari Tasikmalaya berdenyut terik di atas hamparan sawah yang hijau menguning. Di bawah langit yang bersih tanpa segaris awan pun, udara terasa pekat oleh aroma tanah basah dan jerami terbakar.

Aam, yang baru berusia sepuluh tahun, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang legam berlumur lumpur. Kaos oblongnya yang tipis dan kekuningan sudah basah kuyup. Di tangannya, sebuah ani-ani kecil—alat pengetam padi tradisional—tergenggam erat. Di dekatnya, Pak Karta, sang ayah, bergerak dengan ritme yang lambat namun pasti, memotong batang-batang padi yang merunduk.

"Aam, istirahat dulu, Le," panggil Pak Karta, suaranya serak namun terdengar teduh. Beliau berjalan menuju saung kecil di sudut petakan sawah.

Aam tersenyum, menancapkan kakinya yang bertelanjang di dalam lumpur sedalam mata kaki, lalu melangkah setengah berlari menuju saung. Perutnya sudah berbunyi sejak tadi. Di dalam saung, selembar daun pisang sudah tergelar, menyajikan menu makan siang mereka hari ini: sebakul kecil nasi timbel, sambal goang, dan sebutir telur rebus.

Pak Karta membelah telur rebus itu menjadi dua bagian dengan seutas benang, lalu membelahnya lagi hingga menjadi empat bagian yang sama rata.

"Ingat, bagian yang dua lagi untuk adik-adikmu di rumah," kata Pak Karta lembut, menyerahkan sepotong kecil telur—seperempat bagian—ke atas nasi Aam.

"Iya, Pak. Aam tahu," jawab Aam riang. Baginya, bisa makan seperempat telur rebus di musim paceklik seperti ini sudah sebuah kemewahan yang patut disyukuri. Rasa gurih telur dan pedasnya sambal langsung memanjakan lidahnya yang kelaparan.

Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara yang asing di telinga masyarakat desa. Bukan suara cangkul yang beradu dengan tanah, bukan pula gurauan para petani.

Klotak... klotak... klotak...

Suara derap langkah kuda yang teratur berpadu dengan gemerincing kuningan. Sebuah delman—bukan delman biasa yang reot seperti milik Mang Udin di pasar—meluncur anggun di atas jalan makadam yang membelah area persawahan. Delman itu tampak bersih, kayunya mengilat disepuh cat hitam pernis, dan ditarik oleh seekor kuda jantan berbulu cokelat yang gagah.

Aam menghentikan kunyahannya. Matanya yang bulat melebar, menatap lurus ke arah jalan.

Di dalam delman itu, duduk seorang gadis kecil yang tampaknya sebaya dengan Aam. Namun, sosoknya terlihat seperti datang dari dunia yang sama sekali berbeda. Kulitnya putih bersih, tampak begitu glowing di bawah sengatan matahari tropis yang biasanya membuat anak-anak desa gosong. Rambutnya yang hitam lebat dikuncir dua dengan pita berwarna senada dengan pakaiannya.

Gadis itu mengenakan gaun terusan kasual berwarna merah menyala. Potongan atasnya sedikit terbuka di bagian bahu, memperlihatkan tulang selangkangannya yang kecil, sementara bawahannya berupa rok pendek di atas lutut yang menampilkan sepasang kaki yang jenjang dan bersih tanpa noda lumpur sedikit pun. Ia duduk dengan punggung tegak, memandang ke arah hamparan sawah dengan binar mata yang penuh rasa ingin tahu, namun tetap memancarkan aura wibawa yang anggun.

Aam terpaku. Tangannya yang memegang sejumput nasi membeku di udara. Dunia di sekitarnya seolah mendadak kehilangan suara. Angin yang berembus memainkan rambut panjang bergelombang milik gadis itu, membuatnya terlihat seperti malaikat kecil yang tersesat di tengah persawahan Tasikmalaya.

"Pak..." bisik Aam tanpa mengalihkan pandangannya dari delman yang bergerak lambat. "Itu... siapa?"

Pak Karta ikut memandang ke arah jalan, lalu menghela napas panjang, sebuah senyuman maklum terukir di wajahnya yang keriput. "Itu Neng, anak kota. Katanya anak seorang jenderal besar TNI dari Menteng, Jakarta. Dia sedang berkunjung ke rumah Ua-nya di ujung desa."

"Menteng?" Aam mengeja kata itu dengan lidahnya yang kaku. "Menteng itu jauh ya, Pak?"

"Jauh sekali, Aam. Lebih jauh dari kota Tasik. Di sana rumahnya besar-besar, jalannya halus, dan orang-orangnya naik mobil mewah, bukan delman seperti kita," jelas Pak Karta sembari mengusap kepala Aam yang dipenuhi rambut jagung kering. "Sudah, habiskan nasimu. Orang-orang seperti mereka itu seperti bintang di langit. Indah dilihat, tapi tidak akan pernah bisa kita sentuh."

Delman itu terus berlalu, menyisakan debu-debu jalanan yang beterbangan dan bayangan gaun merah yang perlahan menghilang di tikungan jalan. Di dalam saung yang reyot, Aam menunduk, menatap potongan seperempat telur rebus di atas daun pisangnya, lalu kembali menatap ke jalan kosong di mana gadis berbaju merah itu baru saja lewat.

"Bintang di langit..." gumam Aam dalam hati.

Ada secercah perasaan aneh yang tiba-tiba tumbuh di dada anak sepuluh tahun itu. Sebuah perasaan minder yang teramat sangat akibat kontras bumi dan langit di antara mereka, namun sekaligus memicu sebuah letupan kecil yang kelak akan mengubah seluruh garis takdirnya.

Komentar